Panduan Teknis Memilih Penguat Rasa Dalam Formulasi Produk Pangan Industri

- Editor

Senin, 14 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam pengembangan produk makanan berskala industri, keberhasilan rasa merupakan faktor krusial yang menentukan daya saing di pasar. Rasa yang konsisten, kuat, dan sesuai preferensi konsumen merupakan hasil dari formulasi yang tepat, salah satunya melalui penggunaan penguat rasa (flavour enhancer). Pemilihan bahan penguat rasa bukan hanya mempertimbangkan aspek organoleptik, tetapi juga efisiensi biaya, stabilitas proses, serta regulasi yang berlaku.

Artikel ini membahas secara teknis berbagai jenis penguat rasa yang tersedia di industri, cara memilihnya sesuai kebutuhan produk, serta bukti ilmiah yang mendasari penggunaannya.

Pengertian dan Fungsi Penguat Rasa

Penguat rasa adalah bahan tambahan pangan (BTP) yang berfungsi meningkatkan intensitas rasa alami dalam produk makanan tanpa menciptakan rasa baru. Salah satu jenis penguat rasa yang paling umum adalah mononatrium glutamat (MSG), yang memperkuat sensasi rasa umami, rasa kelima yang menjadi ciri khas kelezatan makanan.

Klasifikasi Penguat Rasa Berdasarkan Asal dan Fungsi

Pemilihan Penguat Rasa Berdasarkan Jenis Produk

Faktor Teknis yang Mempengaruhi Pemilihan

Segmentasi Pasar

– Clean label: preferensi pada yeast extract, HVP, atau jamur shiitake

Baca Juga :  Bitcoin Meroket 129% di 2024: Akankah Sentuh Rp1,59 Miliar di Desember?

– Pasar massal: MSG dan I+G tetap menjadi pilihan utama karena efisiensi dan efek rasa yang kuat

– Produk vegan: penggunaan HVP, yeast extract dan glycine dapat menggantikan rasa gurih dari daging

Konsistensi Antar Batch

Konsistensi rasa dari satu batch produksi ke batch berikutnya sangat penting untuk menjaga kualitas dan kepuasan konsumen. MSG dan I+G menawarkan kestabilan sensorik yang tinggi.

Stabilitas Proses

Bahan seperti MSG dan Ethyl Maltol relatif stabil terhadap pemanasan tinggi, pembekuan, dan penyimpanan jangka panjang. Sebaliknya, bahan alami seperti kaldu bubuk cenderung lebih mudah terdegradasi dan menghasilkan variabilitas rasa.

Regulasi dan Labelisasi

Penguat rasa dengan INS number (misalnya 621, 627, 631) harus dicantumkan dalam label komposisi. Untuk pasar halal, penting memastikan bahan tidak berasal dari sumber hewani non-halal (terutama pada inosinat/guanylat).

Efek Sinergis MSG dan I+G: Efisiensi dan Intensitas

MSG dapat memberikan rasa umami yang lebih kuat ketika dikombinasikan dengan disodium inosinate (IMP) dan disodium guanylate (GMP). Kombinasi ini mampu meningkatkan persepsi rasa hingga 15 kali lebih kuat dibanding MSG tunggal pada konsentrasi yang sama, memungkinkan pengurangan penggunaan bahan mahal seperti daging atau kaldu hewani dalam formulasi.

Baca Juga :  Top 5 Two Way Cake Powder yang Wajib Dicoba Tahun Ini

Dosis Aman dan Aspek Keamanan

Menurut EFSA, batas konsumsi harian yang dapat diterima (Acceptable Daily Intake, ADI) untuk glutamat adalah 30 mg/kg berat badan per hari. FDA dan JECFA menyatakan bahwa MSG tergolong GRAS (Generally Recognized As Safe) ketika digunakan dalam kadar yang wajar.

Kesimpulan

Pemilihan penguat rasa harus mempertimbangkan aspek teknis, sensorik, ekonomi, serta persepsi konsumen. Dalam banyak kasus, kombinasi antara bahan sintetis dan alami memberikan hasil optimal, yaitu keseimbangan antara efisiensi produksi dan profil rasa yang kompleks.

Penting bagi pelaku industri untuk:

– Melakukan uji sensorik dan stabilitas dalam simulasi proses produksi

– Mengacu pada regulasi nasional dan internasional

– Menyelaraskan strategi formulasi dengan kebutuhan pasar

PT. Bahtera Adi Jaya menyediakan berbagai jenis penguat rasa, mulai dari MSG, I+G, hingga yeast extract dan oleoresin pedas, yang telah teruji kualitas, stabilitas, dan keamanannya, serta siap digunakan dalam formulasi produk industri.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dominasi Emas Terus Melonjak di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Bittime Hadir dengan Staking APY Hingga 15%
Frozen Food Kian Diminati, KAI Logistik Catatkan Peningkatan Pengiriman hingga 32%
Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 26% di Januari 2026, Tunjukkan Pergeseran Mobilitas Perkotaan di Jabodebek
Transformasi Digital Perkuat Kinerja Operasional IPCC Terminal Kendaraan
Dinamika Awal Tahun, BRI Finance Terapkan Strategi Pembiayaan Kompetitif
Genap Setahun Beroperasi, KA Gunungjati Angkut 248 Ribu Penumpang dari Daop 1 Jakarta
KAI Daop 9 Jember Perkuat Keselamatan Perjalanan KA melalui Upgrade Prasarana Sepanjang 2025
Masuki Masa Transisi Pemulihan Pascabencana, Kementerian PU Lanjutkan Program Rehabilitasi Infrastruktur Dasar di Provinsi Aceh
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:00 WIB

Dominasi Emas Terus Melonjak di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Bittime Hadir dengan Staking APY Hingga 15%

Selasa, 3 Februari 2026 - 18:00 WIB

Frozen Food Kian Diminati, KAI Logistik Catatkan Peningkatan Pengiriman hingga 32%

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:00 WIB

Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 26% di Januari 2026, Tunjukkan Pergeseran Mobilitas Perkotaan di Jabodebek

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:00 WIB

Transformasi Digital Perkuat Kinerja Operasional IPCC Terminal Kendaraan

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:00 WIB

Dinamika Awal Tahun, BRI Finance Terapkan Strategi Pembiayaan Kompetitif

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

KAI Daop 9 Jember Perkuat Keselamatan Perjalanan KA melalui Upgrade Prasarana Sepanjang 2025

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

Masuki Masa Transisi Pemulihan Pascabencana, Kementerian PU Lanjutkan Program Rehabilitasi Infrastruktur Dasar di Provinsi Aceh

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

Perkuat Ekosistem Industri Terintegrasi, Krakatau Steel Group Resmikan The Level dan Sejumlah Proyek Strategis

Berita Terbaru