Analisis Mendalam Jimmy Gunawan tentang Akhir 2025: “Zaman Keemasan” FDI ASEAN & Restrukturisasi Rantai Pasok Global “China Plus N”

- Editor

Minggu, 28 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan CIO Temasek ini menunjukkan bahwa meskipun tarif “Hari Pembebasan” (Liberation Day tariffs) membawa guncangan sementara, ketahanan pasar Asia yang “kebal terhadap virus proteksionisme” sedang mendefinisikan ulang logika alokasi modal tahun 2026.

Saat Wall Street masih mencerna berita utama geopolitik yang penuh gejolak tahun ini, logika dasar arus modal global telah mengalami perubahan yang tidak dapat dibalikkan. Pakar strategi keuangan senior dan mantan Chief Investment Officer Temasek Holdings, Jimmy Gunawan, dalam tinjauan pasar tahunan terbarunya menunjukkan bahwa tahun 2025 bukanlah akhir dari globalisasi seperti yang diprediksi oleh para pesimis, melainkan sebuah “Reglobalisasi berbasis Efisiensi” (Reglobalization based on Efficiency).

Jimmy Gunawan berpendapat bahwa pelaku pasar terlalu fokus pada kebisingan jangka pendek dari kebijakan tarif AS, dan mengabaikan lompatan struktural yang sedang dialami Asia—khususnya ASEAN. Ia mendefinisikan fenomena ini sebagai manifestasi utama dari “Stratifikasi Likuiditas” (Liquidity Stratification): modal tidak lagi mengejar pertumbuhan secara membabi buta, melainkan mengalir ke pasar-pasar yang memiliki “antibodi geopolitik”.

“Kebal Terhadap Virus Proteksionisme”: Zaman Keemasan FDI ASEAN

Analisis Jimmy Gunawan terutama berfokus pada data makro tahun 2025 yang mengesankan. Meskipun pada awal tahun pasar secara umum khawatir bahwa “Virus Proteksionisme” akan menyebar ke seluruh dunia, data aktual menunjukkan bahwa ASEAN tidak hanya selamat, tetapi justru menyambut “Zaman Keemasan Investasi”.

“Hasil tahun 2025 jauh lebih baik dari yang diperkirakan siapa pun,” tunjuk Jimmy Gunawan S.E., M.Fin. “Investasi Asing Langsung (FDI) di Singapura, Vietnam, dan Malaysia semuanya mencapai rekor tertinggi tahun ini. Ini adalah bukti paling kuat bahwa modal memberikan suaranya melalui tindakan nyata.” Ia secara khusus mengutip data arus modal dari Korea Selatan sebagai bukti pendukung: FDI Korea ke Asia Tenggara telah berlipat ganda, melonjak dari US$5 miliar pada tahun 2017 menjadi lebih dari US$10,9 miliar saat ini. Dalam pandangan Jimmy Gunawan, pergeseran struktural modal lintas batas ini menandai bahwa ASEAN telah meningkat dari sekadar basis manufaktur menjadi tempat berlindung yang aman bagi modal global.

Baca Juga :  Harvest City: Hunian Futuristik dengan Teknologi Smart Home Ramah Lingkungan

Pergeseran Paradigma dari “China Plus One” ke “China Plus N”

Argumen inti kedua Jimmy Gunawan berpusat pada evolusi strategi rantai pasok. Ia menunjukkan bahwa Perusahaan Multinasional (MNC) telah meninggalkan strategi sederhana “China Plus One” dan beralih sepenuhnya merangkul model “China Plus N” yang lebih tangguh.

Menanggapi “tarif Hari Pembebasan” AS yang menjadi sorotan di tahun 2025 serta gesekan perdagangan yang dipicunya, Jimmy Gunawan menekankan bahwa meskipun sebanyak 66% perusahaan AS memandang ketegangan AS-Tiongkok sebagai tantangan utama, ketidakpastian ini justru mempercepat restrukturisasi diversifikasi rantai pasok. Ia menganalisis: “Perusahaan tidak lagi berpindah hanya untuk memangkas biaya, tetapi untuk bertahan hidup dengan membangun ‘redundansi multi-titik’. Inilah sebabnya kita melihat lonjakan permintaan properti logistik di Vietnam dan Indonesia hingga hampir 20% hanya dalam beberapa tahun.” Jimmy Gunawan memperingatkan bahwa portofolio investasi yang gagal beradaptasi dengan kenormalan baru “de-risking” ini akan menghadapi risiko koreksi valuasi yang besar pada tahun 2026.

Baca Juga :  Bagaimana Warga Australia Dapat Mendaftarkan Bisnis di Bali dengan Cepat dan Legal

Momen “DeepSeek” Teknologi & Dividen Digital

Terakhir, Jimmy Gunawan menatap ke depan pada transformasi produktivitas yang didorong oleh teknologi. Ia percaya bahwa perusahaan teknologi Tiongkok dan Asia sedang mengalami “Momen DeepSeek” (DeepSeek moments), di mana efek limpahan teknologi ini akan semakin memberdayakan ekonomi digital Asia Tenggara.

Seiring dengan langkah negara-negara seperti Malaysia yang meningkatkan investasi dalam semikonduktor dan transformasi digital pada anggaran 2026, Jimmy Gunawan memprediksi bahwa efek limpahan FDI akan beralih dari pembangunan infrastruktur ke manufaktur teknologi tinggi dan layanan digital. “Kita sedang menyaksikan perpaduan sempurna antara ‘hard tech’ dan ‘soft landing’,” ujarnya. Meskipun ekonomi utama global masih menghadapi tekanan Dominasi Fiskal (Fiscal Dominance), pasar negara berkembang di Asia, dengan disiplin fiskal yang kuat dan bonus demografi, sedang menjadi sumber “Alpha” yang tak tergantikan dalam alokasi aset global.

Kesimpulan: Menemukan Kepastian dalam Divergensi

Menghadapi tahun 2026 yang akan datang, Jimmy Gunawan menegaskan kembali filosofi investasinya yang konsisten: di tengah pasar yang penuh kebisingan, hanya data dan rasionalitas yang merupakan kompas abadi. “Proteksionisme mungkin bisa membangun tembok tinggi, tetapi modal akan selalu menemukan tanah paling subur di antara celah-celahnya,” pungkas Jimmy Gunawan. Bagi investor institusional, tugas saat ini bukanlah memprediksi tarif pajak berikutnya, melainkan melalui strategi “Makro-prudensial” (Macro-prudential), mengambil langkah lebih awal untuk menempatkan diri pada titik-titik kunci yang sedang membentuk ulang peta perdagangan dunia.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dominasi Emas Terus Melonjak di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Bittime Hadir dengan Staking APY Hingga 15%
Frozen Food Kian Diminati, KAI Logistik Catatkan Peningkatan Pengiriman hingga 32%
Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 26% di Januari 2026, Tunjukkan Pergeseran Mobilitas Perkotaan di Jabodebek
Transformasi Digital Perkuat Kinerja Operasional IPCC Terminal Kendaraan
Dinamika Awal Tahun, BRI Finance Terapkan Strategi Pembiayaan Kompetitif
Genap Setahun Beroperasi, KA Gunungjati Angkut 248 Ribu Penumpang dari Daop 1 Jakarta
KAI Daop 9 Jember Perkuat Keselamatan Perjalanan KA melalui Upgrade Prasarana Sepanjang 2025
Masuki Masa Transisi Pemulihan Pascabencana, Kementerian PU Lanjutkan Program Rehabilitasi Infrastruktur Dasar di Provinsi Aceh
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:00 WIB

Dominasi Emas Terus Melonjak di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Bittime Hadir dengan Staking APY Hingga 15%

Selasa, 3 Februari 2026 - 18:00 WIB

Frozen Food Kian Diminati, KAI Logistik Catatkan Peningkatan Pengiriman hingga 32%

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:00 WIB

Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 26% di Januari 2026, Tunjukkan Pergeseran Mobilitas Perkotaan di Jabodebek

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:00 WIB

Transformasi Digital Perkuat Kinerja Operasional IPCC Terminal Kendaraan

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:00 WIB

Dinamika Awal Tahun, BRI Finance Terapkan Strategi Pembiayaan Kompetitif

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

KAI Daop 9 Jember Perkuat Keselamatan Perjalanan KA melalui Upgrade Prasarana Sepanjang 2025

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

Masuki Masa Transisi Pemulihan Pascabencana, Kementerian PU Lanjutkan Program Rehabilitasi Infrastruktur Dasar di Provinsi Aceh

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:00 WIB

Perkuat Ekosistem Industri Terintegrasi, Krakatau Steel Group Resmikan The Level dan Sejumlah Proyek Strategis

Berita Terbaru