Dari Ikan Pesmol ke Tabulla Rasa: Evolusi Resto Bandung yang Diam-Diam Ditiru Banyak Orang

- Editor

Minggu, 1 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung, restoran dengan menu warisan nusantara bukan hal yang langka. Tapi restoran yang berani keluar dari pakem tanpa kehilangan akar, jumlahnya jauh lebih sedikit. Tabulla Rasa adalah salah satunya.

Restoran ini bukan pemain baru. Selama lebih dari 20 tahun, dapurnya dikenal lewat nama Ikan Pesmol Cianjur. Sebuah tempat makan yang bagi banyak orang Bandung sudah seperti rumah kedua. Ikan pesmolnya jadi rujukan, rasanya konsisten, dan pengunjungnya lintas generasi. Dari makan keluarga hari Minggu sampai jamuan bisnis yang butuh rasa aman.

Hari ini, dapur yang sama hadir dengan wajah baru bernama Tabulla Rasa. Bukan untuk meninggalkan Sunda, tapi untuk melangkah lebih jauh. Tabulla Rasa memosisikan diri sebagai restoran Indonesia dengan sentuhan Sunda. Artinya, tradisi tetap jadi fondasi, tapi eksplorasi rasa Nusantara diberi ruang untuk berkembang.

Pendekatan ini terasa jelas di menu-menunya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Ikan Goreng Bumbu Mabu. Sebuah sajian yang mempertemukan dua wilayah yang secara geografis berjauhan. Sambal matah dari Bali dan sambal dabu-dabu dari Sulawesi Utara disatukan dalam satu piring. Hasilnya bukan sekadar fusion, tapi dialog rasa. Segar, pedas, aromatik, dan tetap membiarkan ikan jadi bintang utamanya.

Baca Juga :  PFSO ISPS Code: Port Academy Luncurkan Pelatihan Baru untuk Keamanan Pelabuhan

Tabulla Rasa juga dikenal sebagai tempat lahirnya sate ikan gurame. Jauh sebelum menu ini ramai diadaptasi oleh berbagai restoran di kota-kota lain, Tabulla Rasa sudah lebih dulu menyajikannya sebagai bagian dari eksplorasi rasa berbasis ikan air tawar. Gurame diolah tanpa duri, dibakar perlahan dengan bumbu maranggi yang legit dan dalam, menghadirkan rasa yang akrab sekaligus berkarakter.

Menu ini menjadi favorit karena kesederhanaannya. Mudah dinikmati, tidak merepotkan, dan terasa dibuat dengan niat. Bukan sekadar gimmick, melainkan solusi bagi siapa pun yang ingin menikmati ikan tanpa ribet, namun tetap kaya rasa. Sebelum mencoba berbagai versinya di tempat lain, banyak yang menyarankan untuk mencicipi originalnya lebih dulu, langsung dari dapur tempat menu ini pertama kali diperkenalkan.

Nama Tabulla Rasa sendiri bukan dipilih tanpa alasan. Berasal dari konsep tabula rasa, gagasan bahwa manusia datang ke dunia sebagai lembar kosong. Filosofi ini diterjemahkan ke pengalaman makan. Pengunjung datang tanpa ekspektasi berlebihan, lalu membiarkan rasa yang berbicara. Pelan-pelan, makanan membuka indera, mencairkan suasana, dan membuat obrolan mengalir lebih jujur.

Baca Juga :  Libur Panjang Isra Mikraj 2026, Penumpang KA di Divre III Palembang Tembus 14 Ribu Orang

Di tengah budaya makan cepat dan tren kuliner yang sering datang lalu pergi, Tabulla Rasa mengambil posisi berbeda. Ia tidak mengejar sensasi sesaat. Ia memilih konsistensi, kedalaman rasa, dan hubungan jangka panjang dengan pengunjungnya.

Lebih dari dua dekade bertahan di Bandung bukan kebetulan. Tabulla Rasa hidup dari dapur yang terjaga, bahan yang dipilih dengan serius, dan pemahaman bahwa makanan punya peran sosial. Menghangatkan keluarga, mempertemukan orang-orang, dan menjadi alasan untuk duduk lebih lama di meja yang sama.

Untuk siapa pun yang mencari pengalaman kuliner Indonesia yang relevan, jujur, dan berakar, Tabulla Rasa layak masuk daftar. Bukan hanya sebagai restoran menu nusantara, tapi sebagai potret bagaimana tradisi bisa tumbuh tanpa kehilangan jati diri.

Tabulla Rasa berlokasi di jalan Soekarno Hatta No. 88, Bandung dan di jalan Setiabudi No. 85, Bandung.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Data Ekonomi Penting yang Perlu Dipantau Pelaku Pasar Setiap Pekan
Tinjau Proses Normalisasi Sungai Kuranji di Sumatera Barat, Menteri PU Pastikan Progres Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sesuai Rencana
Pemesanan Tiket KA Angkutan Lebaran 1447 H, Hingga H-4 Sudah Dapat Dipesan, Daop 7 Madiun Tembus 19.110 Pelanggan
Sambut Lebaran 2026, KAI Daop 7 Madiun Ajak Masyarakat Rencanakan Perjalanan Lebih Awal dan Bagikan Tips “War” Tiket
Sinergi KAI Daop 4 Semarang dan Pemkab Pemalang Bahas Rencana Pemberhentian KA di Stasiun Comal untuk Dukung Mobilitas dan Pariwisata Daerah
Lindungi Pekerja Operasional, KAI Divre III Gandeng PJK3 Pastikan Standar K3 Optimal
Peran Wilayah Arktik dalam Persaingan Global
Awali 2026, PTPP Peroleh Proyek Gedung Institusional Kejaksaan Agung
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 16:01 WIB

Dari Ikan Pesmol ke Tabulla Rasa: Evolusi Resto Bandung yang Diam-Diam Ditiru Banyak Orang

Minggu, 1 Februari 2026 - 11:00 WIB

Data Ekonomi Penting yang Perlu Dipantau Pelaku Pasar Setiap Pekan

Minggu, 1 Februari 2026 - 00:00 WIB

Tinjau Proses Normalisasi Sungai Kuranji di Sumatera Barat, Menteri PU Pastikan Progres Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sesuai Rencana

Minggu, 1 Februari 2026 - 00:00 WIB

Pemesanan Tiket KA Angkutan Lebaran 1447 H, Hingga H-4 Sudah Dapat Dipesan, Daop 7 Madiun Tembus 19.110 Pelanggan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:01 WIB

Sinergi KAI Daop 4 Semarang dan Pemkab Pemalang Bahas Rencana Pemberhentian KA di Stasiun Comal untuk Dukung Mobilitas dan Pariwisata Daerah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 17:00 WIB

Lindungi Pekerja Operasional, KAI Divre III Gandeng PJK3 Pastikan Standar K3 Optimal

Sabtu, 31 Januari 2026 - 17:00 WIB

Peran Wilayah Arktik dalam Persaingan Global

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:01 WIB

Awali 2026, PTPP Peroleh Proyek Gedung Institusional Kejaksaan Agung

Berita Terbaru