“Dari Surakarta ke Surabaya: Mangkunegaran Menyalakan Semangat Budaya”

- Editor

Rabu, 27 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surabaya – Di tengah zaman yang melaju cepat, ketika generasi muda
sering dicap apatis terhadap sejarah dan tradisi, sebuah momen bermakna terjadi
di panggung IdeaFest Surabaya 2025 x Youthpreneur Fest. Komunitas Punggawa
Budaya Nusantara, yang diinisiasi oleh anak-anak muda, sec ara resmi menganugerahkan Plakat
Kehormatan kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara X (Gusti
Bhre).

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi
beliau dalam dan mengenalkan budaya dengan cara yang relevan dan membumi kepada
generasi Z—sebuah generasi yang sering kali dianggap jauh dari akar sejarahnya.

Di tangan Gusti Bhre, budaya tak lagi menjadi beban
warisan yang berat, tetapi justru hadir sebagai kekuatan yang menginspirasi,
membentuk identitas, dan mendorong arah baru dalam perekonomian dan cara hidup
anak muda hari ini. Sebagai pemimpin termuda dalam sejarah Mangkunegaran, Gusti
Bhre telah membuktikan bahwa kepemimpinan tradisional bisa berjalan selaras
dengan era digital.

Dalam sesi IdeaTalks, Gusti Bhre menekankan bahwa budaya
tidak seharusnya dipandang sebagai beban, melainkan sebagai modal penting bagi
masa depan. “Budaya yang datang dari masa lalu bukanlah beban bagi generasi
muda, tetapi potensi kuat untuk kemajuan ekonomi,” katanya.

Baca Juga :  Menjadikan Kantor Lebih Cerdas dan Efisien dengan Sistem Crestron untuk Produktivitas Maksimal

Ia
menambahkan, kekuatan budaya Indonesia dapat memberi dampak besar jika kembali
dikenali dan dimanfaatkan oleh generasi muda. “Ekonomi kuat karena budaya kuat.
Budaya kuat karena ekonomi kuat,”

Pernyataan tersebut bukan hanya retorika. Di bawah
kepemimpinan Gusti Bhre, Mangkunegaran telah menjalankan berbagai transformasi:
membuka kanal interaktif publik seperti @info.mn  dan @pracima.mn , guna mendigitalisasi arsip-arsip budaya, serta menciptakan ruang partisipasi yang
aktif bagi generasi muda. Keraton tak lagi hanya menjadi tempat upacara, tetapi
juga ruang dialog dan kolaborasi lintas generasi.

Transformasi ini mendapat sambutan hangat dari pelaku
industri kreatif yang hadir di festival tersebut. Salah satunya adalah Wiwi
Paimun, CEO Onuka Chocolate, yang turut menjadi exhibitor.

“Saya
sangat terinspirasi. Visi beliau menguatkan apa yang kami coba
lakukan—mengangkat budaya dalam produk. Packaging cokelat Onuka juga tersemat
cerita rakyat Indonesia,” ungkap Wiwi, yang dikenal sebagai pelaku UMKM artisan
cokelat asli Indonesia.

Mangkunegaran bukan sekadar keraton—ia adalah simbol
perjuangan. Berdiri atas tekad Pangeran Sambernyawa, kerajaan ini lahir dari
keberanian. Semangat yang dimiliki Mangkunegaran ini memiliki korelasi dengan
Kota Surabaya yang terkenal dengan keberanian nyali penduduknya, hal itu pun
bukan kebetulan semata. Kakek Gusti Bhre tercatat sebagai salah satu pahlawan
nasional yang menorehkan jejak perjuangannya di Surabaya.

Baca Juga :  LindungiHutan Rilis “ESG Master Guide”: Panduan Lengkap untuk Perusahaan Menerapkan Keberlanjutan yang Nyata dan Terukur

Founder Punggawa Budaya Nusantara, Nathan Santoso, turut
memberikan pandangan dalam penyerahan plakat tersebut. “Banyak orang
lupa bahwa Surabaya dan Mangkunegaran punya sejarah perlawanan yang saling
berkait. Mangkunegaran bukan kerajaan pasif. Ia lahir dari perang. Ia mewakili
keberanian. Dan hari ini, semangat itu tidak lagi berupa senjata, tetapi berupa
keyakinan untuk menjadikan budaya sebagai alat perjuangan yang baru—yang lembut
tapi mengakar, yang tidak membakar, tapi mengubah.”

Plakat Kehormatan yang diberikan oleh Punggawa Budaya
Nusantara bukan sekadar simbol seremonial. Ia menjadi pernyataan generasi baru
yang menyadari pentingnya budaya—dan kini turut memperjuangkannya. Generasi
yang dulu dianggap jauh dari sejarah, justru kini berdiri di garda depan untuk
merayakan tokoh yang berhasil mengubah persepsi budaya dari sesuatu yang
membebani menjadi sesuatu yang membebaskan.(*)

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Maraton Kreativitas 48 Jam Global Game Jam Makassar 2026 Lahirkan 10 Gim Karya Talenta Lokal
Di Tengah Volatilitas Pasar, Bittime Buka Waitlist Beta Futures dengan Trial Funds hingga $1.500 USDT
Alcavella Gelar “Harmoni dalam Kebersamaan” Bersama BM Boutiqe
Pelindo Multi Terminal Bumiharjo Bagendang Catat Kinerja Positif Sepanjang 2025
Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Tembus 598 Ribu di Januari 2026
Hadapi Dinamika Bisnis 2026: KitaLulus dan Smart Salary Gelar Forum Strategis bagi HR Leaders di Jakarta
Krakatau Steel Raih Validasi Pasar Melalui Best Stock Awards 2026
Bangun Sekolah Rakyat Tahap II di Aceh, Menteri PU Pastikan Konstruksi Cepat, Tepat, dan Berkualitas
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 Februari 2026 - 20:01 WIB

Maraton Kreativitas 48 Jam Global Game Jam Makassar 2026 Lahirkan 10 Gim Karya Talenta Lokal

Senin, 2 Februari 2026 - 20:01 WIB

Di Tengah Volatilitas Pasar, Bittime Buka Waitlist Beta Futures dengan Trial Funds hingga $1.500 USDT

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Alcavella Gelar “Harmoni dalam Kebersamaan” Bersama BM Boutiqe

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Tembus 598 Ribu di Januari 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Hadapi Dinamika Bisnis 2026: KitaLulus dan Smart Salary Gelar Forum Strategis bagi HR Leaders di Jakarta

Senin, 2 Februari 2026 - 15:00 WIB

Krakatau Steel Raih Validasi Pasar Melalui Best Stock Awards 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 15:00 WIB

Bangun Sekolah Rakyat Tahap II di Aceh, Menteri PU Pastikan Konstruksi Cepat, Tepat, dan Berkualitas

Senin, 2 Februari 2026 - 14:01 WIB

Hilirisasi Mineral dan Pengembangan Ekosistem Baterai, Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Berita Terbaru