Harga Emas Tertekan Jelang Keputusan The Fed, Optimisme Dagang AS–Tiongkok Redam Daya Tarik Safe Haven

- Editor

Rabu, 29 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (29/10) pagi waktu Asia, setelah turun tajam selama sesi Amerika sebelumnya. Logam mulia anjlok 0,63% dan kini bergerak di sekitar $3.955 per ons. Penurunan ini menandai pelemahan tiga hari berturut-turut, dengan harga sempat menyentuh level terendah tiga minggu di bawah $3.900.

Tekanan utama terhadap emas kali ini berasal dari meningkatnya selera risiko investor setelah muncul sinyal positif dari perkembangan negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Ketika ketegangan dagang mulai mereda, investor cenderung beralih ke aset berisiko seperti saham dan meninggalkan emas sebagai aset pelindung.

Dari sisi teknikal, menurut analisis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menyebutkan bahwa formasi candlestick harian dan pergerakan Moving Average (MA) menunjukkan tren bearish masih dominan. Ia memproyeksikan, apabila tekanan jual berlanjut, harga emas berpotensi meluncur ke area $3.910 sebagai level support berikutnya. Namun, bila tekanan tersebut mulai mereda dan terjadi koreksi teknikal, peluang rebound menuju $4.014 tetap terbuka. “Kisaran harga ini akan menjadi area penting bagi pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya,” ujar Andy.

Baca Juga :  Terlibat Aktif Dukung Lingkungan, KAI Bandara Raih Empat Penghargaan di Indonesia Green Awards

Secara fundamental, perhatian pasar kini sepenuhnya tertuju pada keputusan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan malam ini. Ekspektasi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) telah mencapai hampir 100%, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool. Jika realisasi sesuai perkiraan, maka suku bunga acuan AS akan turun ke kisaran 3,75%–4,00%, menjadi pemangkasan kedua secara berturut-turut dalam dua bulan terakhir.

Kebijakan pelonggaran moneter ini umumnya memberikan sentimen positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang dalam memegang aset tanpa imbal hasil. Namun, Andy menilai dampaknya kali ini bisa lebih terbatas karena pelaku pasar sudah lebih dulu mengantisipasi keputusan tersebut. “Pasar sudah mendiskon kemungkinan pemangkasan suku bunga, jadi kenaikan harga emas pasca pengumuman mungkin tidak akan signifikan,” kata Andy.

Selain faktor The Fed, pernyataan Presiden AS Donald Trump juga menjadi sorotan. Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa kesepakatan dagang dengan Tiongkok dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang. Para pejabat kedua negara dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal yang akan difinalisasi dalam pertemuan antara Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan pada hari Kamis mendatang. Optimisme ini semakin menekan kebutuhan investor terhadap aset safe haven seperti emas.

Baca Juga :  Bagaimana RLUSD Membantu XRP Menjadi Pemain Utama di 2025

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah tipis 0,11% ke level 98,68, sedangkan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun stabil di 3,981%. Imbal hasil riil AS yang biasanya bergerak berlawanan dengan harga emas juga stagnan di 1,701%, menandakan pasar masih dalam fase menunggu keputusan kebijakan The Fed.

Dari sisi pandangan jangka menengah, Bank of America (BoA) memperkirakan harga emas bisa turun hingga $3.800 per ons pada kuartal keempat 2025. Dalam laporannya, BoA menyebut pasar emas saat ini sedang memasuki fase koreksi alami setelah periode kenaikan tajam yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Secara keseluruhan, emas dalam jangka pendek masih berada di bawah tekanan, dengan potensi pelemahan ke $3.910 dan resistance di $4.014. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian bagi trader dan investor dalam mengambil posisi menjelang hasil rapat The Fed. “Selama emas belum mampu menembus kembali di atas $4.000 secara stabil, tren bearish masih menjadi dominan di pasar,” pungkas Andy.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dari Ikan Pesmol ke Tabulla Rasa: Evolusi Resto Bandung yang Diam-Diam Ditiru Banyak Orang
Data Ekonomi Penting yang Perlu Dipantau Pelaku Pasar Setiap Pekan
Tinjau Proses Normalisasi Sungai Kuranji di Sumatera Barat, Menteri PU Pastikan Progres Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sesuai Rencana
Pemesanan Tiket KA Angkutan Lebaran 1447 H, Hingga H-4 Sudah Dapat Dipesan, Daop 7 Madiun Tembus 19.110 Pelanggan
Sambut Lebaran 2026, KAI Daop 7 Madiun Ajak Masyarakat Rencanakan Perjalanan Lebih Awal dan Bagikan Tips “War” Tiket
Sinergi KAI Daop 4 Semarang dan Pemkab Pemalang Bahas Rencana Pemberhentian KA di Stasiun Comal untuk Dukung Mobilitas dan Pariwisata Daerah
Lindungi Pekerja Operasional, KAI Divre III Gandeng PJK3 Pastikan Standar K3 Optimal
Peran Wilayah Arktik dalam Persaingan Global
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 16:01 WIB

Dari Ikan Pesmol ke Tabulla Rasa: Evolusi Resto Bandung yang Diam-Diam Ditiru Banyak Orang

Minggu, 1 Februari 2026 - 11:00 WIB

Data Ekonomi Penting yang Perlu Dipantau Pelaku Pasar Setiap Pekan

Minggu, 1 Februari 2026 - 00:00 WIB

Tinjau Proses Normalisasi Sungai Kuranji di Sumatera Barat, Menteri PU Pastikan Progres Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sesuai Rencana

Minggu, 1 Februari 2026 - 00:00 WIB

Pemesanan Tiket KA Angkutan Lebaran 1447 H, Hingga H-4 Sudah Dapat Dipesan, Daop 7 Madiun Tembus 19.110 Pelanggan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:01 WIB

Sinergi KAI Daop 4 Semarang dan Pemkab Pemalang Bahas Rencana Pemberhentian KA di Stasiun Comal untuk Dukung Mobilitas dan Pariwisata Daerah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 17:00 WIB

Lindungi Pekerja Operasional, KAI Divre III Gandeng PJK3 Pastikan Standar K3 Optimal

Sabtu, 31 Januari 2026 - 17:00 WIB

Peran Wilayah Arktik dalam Persaingan Global

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:01 WIB

Awali 2026, PTPP Peroleh Proyek Gedung Institusional Kejaksaan Agung

Berita Terbaru