Strategi Investasi Saham 2026, Berburu Saham Bluechip or Konglo? Begini Kata Founder Mikirduit

- Editor

Rabu, 31 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IHSG memang mencatatkan kenaikan yang sensasional tembus 21 persen untuk pertama kalinya sejak terakhir 2014. Lalu, kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak 2010. Lalu, bagaimana strategi investasi saham ke depannya?

JAKARTA — IHSG mencatatkan rekor setelah  24 kali mencatatkan all time high sepanjang 2025 dengan kenaikan sebesar 21,92 persen. Ini adalah kenaikan tertinggi sejak 2011.

Founder dan CEO Mikirduit Surya Rianto mengatakan, IHSG memang banyak mencatatkan rekor bagus seperti market cap tembus Rp16.000 triliun dan all time high sebanyak 24 kali. Namun, catatannya kenaikan IHSG didorong deretan saham konglomerat yang dulunya tidak likuid, tapi digerakkan naik sehingga market capnya cukup raksasa.

Beberapa saham yang meroket tinggi dan bisa dianggap jadi penopang IHSG antara lain, DSSA, DCII, BRPT, MORA, CUAN, hingga IMPC yang skala market cap jumbo, tapi kenaikan dalam setahun lebih dari 100 persen. Selain itu, kenaikan market cap IHSG juga didorong oleh beberapa IPO jumbo dari CDIA, EMAS, hingga SUPA,” ujarnya.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Jadi Kaya: Perjalanan Steven G. Tunas Mengubah Dunia Trading Jadi Ruang Edukasi Finansial

Euforia saham konglomerat memang mencapai puncaknya pada 2025. Dari Prajogo Pangestu, Bakrie, hingga Happy Hapsoro.

Di sisi lain, saham-saham klasik dengan fundamental oke dan bobot ke IHSG besar seperti big bank, yakni BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, hingga ASII mulai tersisih dari top market cap.

BBCA disalip BREN dari posisi nomor satu, BBRI terdepak ke peringkat 5, BMRI ke peringkat 8, TLKM ke-10, dan ASII turun ke-13.

Surya mengingatkan, secara historis, ketika IHSG naik cukup signifikan dalam satu tahun terutama di atas 20 persen. Pada tahun selanjutnya berpotensi koreksi.

Hal itu terjadi pada 2014 ketika IHSG dalam setahun naik 21,71 persen, kemudian di 2015 turun 11,3 persen. Begitu juga pada 2017 ketika IHSG naik 20,14 persen, lalu pada 2018 turun 2,7 persen.

“Intinya, investor harus tetap rasional terhadap harga saham konglomerat yang naik tinggi. Narasi MSCI masih ada, tapi indeks global itu lagi mewacanakan mengubah skema yang lebih ketat untuk saham Indonesia yang diumumkan pada akhir Januari 2026,” ujarnya.

Baca Juga :  KAI Daop 4 Semarang Tertibkan Aset Negara di Wilayah Gergaji Semarang

MSCI memang sempat mengutarakan rencana untuk mengubah ketentuan free float di saham Indonesia dengan menggunakan data KSEI, serta mengecualikan free float berbasis perseroan terbatas domestik, serta lainnya. Lalu, berencana memperkata pembulatan saham Indonesia. Pihak IDX sudah memberikan masukkan ke pihak MSCI, tapi pilihan akhir ada di tangan pemilik indeks global tersebut.

Surya menyarankan, investor bisa memantau perkembangan dulu sebelum jor-joran masuk ke pasar saham di 2026.”Bisa menggunakan strategi manajemen risiko dengan masuk bertahap, serta analisis prospek saham-saham yang akan dibeli. Apakah punya momentum jangka menengah atau tidak, serta apakah volatilitasnya sudah terlampau tinggi atau masih dalam tahap wajar,” ujarnya.

Mikirduit juga sudah update analisis saham terbaru serta realisasi kinerja sepanjang 2025 yang ringkasannya bisa diakses di sini , untuk akses full bisa daftar di sini

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Alcavella Gelar “Harmoni dalam Kebersamaan” Bersama BM Boutiqe
Pelindo Multi Terminal Bumiharjo Bagendang Catat Kinerja Positif Sepanjang 2025
Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Tembus 598 Ribu di Januari 2026
Hadapi Dinamika Bisnis 2026: KitaLulus dan Smart Salary Gelar Forum Strategis bagi HR Leaders di Jakarta
Krakatau Steel Raih Validasi Pasar Melalui Best Stock Awards 2026
Bangun Sekolah Rakyat Tahap II di Aceh, Menteri PU Pastikan Konstruksi Cepat, Tepat, dan Berkualitas
Hilirisasi Mineral dan Pengembangan Ekosistem Baterai, Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Siap Akomodasi Mobilitas Lebaran 2026, KAI–DJKA Pastikan Seluruh Layanan LRT Jabodebek Siap Operasi
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Alcavella Gelar “Harmoni dalam Kebersamaan” Bersama BM Boutiqe

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Pelindo Multi Terminal Bumiharjo Bagendang Catat Kinerja Positif Sepanjang 2025

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Tembus 598 Ribu di Januari 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 17:00 WIB

Hadapi Dinamika Bisnis 2026: KitaLulus dan Smart Salary Gelar Forum Strategis bagi HR Leaders di Jakarta

Senin, 2 Februari 2026 - 15:00 WIB

Krakatau Steel Raih Validasi Pasar Melalui Best Stock Awards 2026

Senin, 2 Februari 2026 - 14:01 WIB

Hilirisasi Mineral dan Pengembangan Ekosistem Baterai, Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 2 Februari 2026 - 13:00 WIB

Siap Akomodasi Mobilitas Lebaran 2026, KAI–DJKA Pastikan Seluruh Layanan LRT Jabodebek Siap Operasi

Senin, 2 Februari 2026 - 13:00 WIB

OAKHOUSE Berpartisipasi dalam JAPAN EDUCATION FAIR 2026 untuk Mendukung Studi di Jepang bagi Orang Indonesia yang Belajar Bahasa Jepang melalui Hunian

Berita Terbaru