CBAM UE 2026 Jadi Tantangan Struktural bagi Daya Saing Baja Nasional

- Editor

Senin, 9 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 9 Februari 2026 – Pemberlakuan penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa mulai Januari 2026 dinilai akan menjadi ujian struktural bagi keberlanjutan ekspor baja nasional, khususnya bagi segmen baja karbon dan stainless steel non-captive yang selama ini menjadikan pasar Uni Eropa sebagai tujuan strategis.

Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, Steel
& Mining Insights menegaskan bahwa CBAM perlu dibaca dari perspektif pelaku
industri, bukan semata statistik perdagangan agregat. Menurutnya, pendekatan
agregat justru berisiko menutupi tekanan nyata yang dihadapi segmen industri
baja bernilai tambah tinggi akibat perubahan rezim perdagangan berbasis karbon.

CBAM Ubah Akses Pasar Uni Eropa

Berbeda dengan instrumen perdagangan konvensional, CBAM dirancang
sebagai mekanisme proteksi permanen dengan mengaitkan akses pasar langsung pada
intensitas emisi karbon. Mulai 2026, eksportir baja wajib membeli sertifikat
CBAM seiring meningkatnya harga karbon dan penghapusan bertahap izin emisi
gratis di Uni Eropa.

Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji mencatat,
untuk baja karbon berbasis BF–BOF, beban CBAM diperkirakan mencapai €40–90 per
ton, sementara untuk stainless steel berbasis RKEF dapat menembus €470–630 per
ton. “Pada level tersebut, biaya karbon secara praktis melampaui margin normal
industri dan menghilangkan kelayakan ekspor ke pasar Uni Eropa,” tulisnya.  

Baca Juga :  Pilihan Jenis Pasir Kucing Tidak Berdebu

Dari sisi total volume ekspor baja nasional, ekspor ke Uni Eropa memang
relatif kecil. Namun, jika difokuskan pada ekspor produk semi-finished
dan finished yang bersifat non-captive market, porsi ekspor ke
Uni Eropa justru signifikan, mencapai sekitar 18% dari total ekspor baja
Indonesia pada 2024–YTD September 2025. Bagi pelaku usaha di segmen ini,
termasuk Krakatau Steel Group (Krakatau Posco), pasar Uni Eropa berperan cukup
penting. Oleh karena itu, penerapan penuh CBAM mulai 2026 merupakan salah satu
faktor kunci yang perlu menjadi perhatian bersama.

Krakatau Steel Tekankan Perlindungan Basis Industri Nasional

Menanggapi dinamika tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Krakatau
Steel Group (IDX: KRAS) menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara
agenda dekarbonisasi dan keberlanjutan industri nasional. Direktur Utama
Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, menilai transisi menuju industri hijau harus
disertai dengan kebijakan yang adil dan terukur. 

Baca Juga :  Tantangan Customer Service Modern? Jawabannya: CRM AI dari Barantum

“Transisi menuju industri baja rendah karbon perlu dijalankan dengan sequencing
dan timing kebijakan yang tepat agar tidak melemahkan basis industri
strategis nasional sebelum transformasi itu sendiri berjalan optimal,” ujar Dr.
Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai

Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan
Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).

Pasar Domestik sebagai Penyangga Utama 

Dalam kondisi pasar ekspor yang semakin protektif, Krakatau Steel
memandang penguatan pasar domestik sebagai jangkar utama menjaga
keberlangsungan industri baja nasional. Perlindungan pasar dalam negeri,
pengendalian impor, serta penguatan penggunaan produksi dalam negeri dinilai
menjadi bagian dari strategi nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden RI
dalam memperkuat kemandirian industri dan ketahanan ekonomi.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Adyatama Tour Gandeng Amazing Thailand, Tawarkan Gratis Thai Wellness untuk Wisatawan Indonesia
LRT Jabodebek Jaga Ketepatan Waktu di Atas 99% di Tengah Tingginya Mobilitas Perkotaan
MIND ID Perkuat Keunggulan Kompetitif Industri, Melalui Ekosistem Industri EV Battery di Karawang
Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan
Mengenal Ragdoll Cat dan Pemeliharaan Bulunya
School of Design BINUS #2 di Indonesia: Diakui Langsung oleh Industri
Risiko Investasi Saham yang Perlu Dipahami Investor Pemula
Bawa Pulang Penghargaan Regional, IndoPsyCare Perkuat Layanan Mental Nasional Lewat Peresmian Klinik Utama
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 15:00 WIB

Adyatama Tour Gandeng Amazing Thailand, Tawarkan Gratis Thai Wellness untuk Wisatawan Indonesia

Sabtu, 18 April 2026 - 14:00 WIB

LRT Jabodebek Jaga Ketepatan Waktu di Atas 99% di Tengah Tingginya Mobilitas Perkotaan

Sabtu, 18 April 2026 - 12:01 WIB

MIND ID Perkuat Keunggulan Kompetitif Industri, Melalui Ekosistem Industri EV Battery di Karawang

Sabtu, 18 April 2026 - 08:00 WIB

Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan

Sabtu, 18 April 2026 - 07:00 WIB

School of Design BINUS #2 di Indonesia: Diakui Langsung oleh Industri

Sabtu, 18 April 2026 - 07:00 WIB

Risiko Investasi Saham yang Perlu Dipahami Investor Pemula

Jumat, 17 April 2026 - 22:00 WIB

Bawa Pulang Penghargaan Regional, IndoPsyCare Perkuat Layanan Mental Nasional Lewat Peresmian Klinik Utama

Jumat, 17 April 2026 - 18:01 WIB

Silaturahmi Strategis BRI Region 6 dan PT Askrindo Perkuat Sinergi Kerja Sama

Berita Terbaru