Film Horor Terbaru ‘Hotel Sakura’ Hadirkan Teror Jepang dengan Nuansa Mistis yang Berbeda

- Editor

Kamis, 22 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 22 Mei 2025 Kakatua Pictures dan HERS Production mengumumkan perilisan film horor terbaru berjudul Hotel Sakura, yang akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 10 Juli 2025. Film ini merupakan film ketiga dari rumah produksi tersebut, menandai langkah baru dalam eksplorasi genre horor Indonesia dengan teror hantu Jepang dan narasi emosional yang mendalam.

Disutradarai oleh Khristo Damar Alam, serta ditulis oleh Upi Avianto, film ini menandai langkah Kakatua Pictures dan HERS Production ke ranah horor supranatural yang menekankan pada eksplorasi karakter. Dengan latar mistis yang berakar pada sejarah Jepang di Indonesia dan pendekatan psikologis terhadap karakter, film ini menghadirkan horor yang bukan hanya menyeramkan, tetapi juga menyentuh sisi paling personal.

“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda—bukan sekadar teror dari hantu, tetapi bagaimana rasa bersalah dan trauma membentuk cerita. Penonton akan merasakan ketegangan yang nyata, sekaligus menyelami kisah pilu para karakter,” ungkap Khristo Damar Alam, Sutradara film Hotel Sakura.

Sinopsis film ‘Hotel Sakura’

Baca Juga :  KAI Daop 1 Jakarta Pastikan Jalur Kereta Aman, Pasca Gempa 4,9 SR di Kab Bekasi

Film ini berkisah tentang Sarah, seorang gadis yang hidup dalam bayang-bayang masa lalunya sejak sang ibu tewas. Terjebak dalam rasa bersalah yang tak kunjung usai, Sarah mencoba berbagai cara untuk bisa kembali ‘bertemu’ dengan ibunya — hingga akhirnya bertemu seorang pria misterius yang menawarkan jalan spiritual penuh bahaya. Ritual tersebut justru membuka pintu untuk teror yang lebih besar. Keinginan untuk menebus kesalahan perlahan berubah menjadi petaka, dan dunia nyata mulai kehilangan batas dengan dunia arwah.

Karakter Setsuko, Teror Baru Dalam Film Horor Indonesia

Yang membedakan Hotel Sakura dari film horor lokal lainnya adalah kehadiran karakter hantu Jepang bernama Setsuko. Sosok ini membawa aura mistis yang kuat, memberi warna baru dalam dunia horor Indonesia yang selama ini didominasi oleh urban legend lokal.

“Yang membuat Setsuko berbeda adalah bagaimana masa lalu kelamnya berpengaruh terhadap keseluruhan teror yang ada di film ini. Setsuko bukan hanya karakter seram, tapi representasi dari luka batin yang tidak terselesaikan,” jelas Upi Avianto, penulis film Hotel Sakura.

Baca Juga :  Kebumen Tak Lagi Sekadar Kota Singgah: Kunjungan Wisata Melonjak, Alam Selatan Jadi Magnet Baru

Terinspirasi dari gaya horor Jepang awal 2000-an, film ini mengandalkan pembangunan atmosfer, suara, dan visual yang menggugah imajinasi. Dipadukan dengan setting lokal yang lekat dengan sejarah penjajahan, Hotel Sakura menjadi film horor yang terasa lintas budaya, sekaligus sangat relevan bagi penonton Indonesia.

Diperankan oleh Clara Bernadeth sebagai Sarah dan Taskya Namya sebagai Nida, sahabat dekat Sarah. Film ini juga menampilkan Randy Martin, Shindy Huang, dan aktor senior Tio Pakusadewo serta Donny Damara. Interaksi antar karakternya mengangkat berbagai dinamika psikologis dan plot twist yang siap mengejutkan penonton.

Kakatua Pictures dan HERS Production mengajak penonton menyelami dunia gelap milik Setsuko serta mengikuti perjalanan Sarah dalam menebus penyesalan yang telah lama menghantuinya. Saksikan Hotel Sakura, mulai 10 Juli 2025, di seluruh bioskop Indonesia.

Ikuti informasi terkini dan konten eksklusif seputar film ini melalui media sosial kami di Instagram dan TikTok.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Telkom Indonesia dan Google Dorong Transformasi Pendidikan Digital di Padang melalui AI Connect Offline Series
Semangat Kartini Menggema di Seluruh Indonesia, Perempuan IDSurvey Perkuat Kolaborasi dan Transformasi Lewat Maheswari Sisterhood Day 2026
INS Sunayna Tiba di Jakarta, Misi “One Ocean, One Mission” Perkuat Sinergi Maritim Indonesia–India
Besi CNP untuk Rangka Atap: Investasi Cerdas atau “Bom Waktu” yang Mengintai?
Nanovest Ekspansi ke Pasar Global, Sepakati Kerjasama Strategis Dengan Fasset
Peringati Hari Kartini, Pekerja BRI Branch Office Tanjung Priok Angkat Wastra Nusantara Lewat Pakaian Nasional
Jangan Sampai Salah! Ini Perbedaan Strategis Besi Beton Polos vs Ulir untuk Struktur Bangunan
Journey into Sustainability Hadir di ARTCYCLE ASHTA District 8, Ajak Publik Melihat Potensi Baru dari Limbah
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 15:00 WIB

Telkom Indonesia dan Google Dorong Transformasi Pendidikan Digital di Padang melalui AI Connect Offline Series

Kamis, 23 April 2026 - 14:01 WIB

Semangat Kartini Menggema di Seluruh Indonesia, Perempuan IDSurvey Perkuat Kolaborasi dan Transformasi Lewat Maheswari Sisterhood Day 2026

Kamis, 23 April 2026 - 14:01 WIB

INS Sunayna Tiba di Jakarta, Misi “One Ocean, One Mission” Perkuat Sinergi Maritim Indonesia–India

Kamis, 23 April 2026 - 14:00 WIB

Besi CNP untuk Rangka Atap: Investasi Cerdas atau “Bom Waktu” yang Mengintai?

Kamis, 23 April 2026 - 14:00 WIB

Nanovest Ekspansi ke Pasar Global, Sepakati Kerjasama Strategis Dengan Fasset

Kamis, 23 April 2026 - 13:00 WIB

Jangan Sampai Salah! Ini Perbedaan Strategis Besi Beton Polos vs Ulir untuk Struktur Bangunan

Kamis, 23 April 2026 - 13:00 WIB

Journey into Sustainability Hadir di ARTCYCLE ASHTA District 8, Ajak Publik Melihat Potensi Baru dari Limbah

Kamis, 23 April 2026 - 12:01 WIB

Dari Limbah Jadi Karya: ARTCYCLE Hadirkan Eksplorasi Material di ASHTA District 8

Berita Terbaru