Trading Tak “Hanya” Tentang Cuan: Misi Steven G. Tunas Mengangkat Literasi Keuangan Indonesia

- Editor

Senin, 2 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah tren sosial media yang dipenuhi dengan konten “cuan cepat”, pamer profit dari HP, dan gaya hidup instan, satu hal yang sering dilupakan justru fondasi terpenting dari semuanya: literasi keuangan dan kesadaran risiko.
Setiap hari kita disuguhkan testimoni kilat dari “uang jajan jadi ratusan juta”, “modal kecil jadi mobil”, hingga “kerja dari rumah cuan tiap hari.” Namun, di balik narasi itu, banyak kisah pilu yang tak diangkat: margin call massal, salah entry karena FOMO, atau rugi karena ikut sinyal tanpa paham analisa.
Di sinilah kisah Steven G. Tunas mengambil peran penting. Pengalamannya sebagai fund manager di salah satu perusahaan paling bonafit di Indonesia, ia memiliki misi membangun komunitas trader yang melek literasi, bukan sekadar mengejar angka.

Dari Laut ke Lantai Bursa

Lulusan jurusan Perikanan dan Kelautan IPB ini awalnya tak punya rencana jadi trader, apalagi fund manager. Ketertarikannya pada dunia keuangan muncul setelah mengikuti kelas pasar modal dari Bursa Efek Jakarta dan Bursa Berjangka. Dari sana, jalannya berubah total.

Ia memulai karier sebagai analis, kemudian naik menjadi manajer di perusahaan pialang berjangka, menyentuh berbagai sisi industri: dari marketing, operasional, hingga dealing room. Jam terbang dan pelayananya di berbagai perusahaan sekuritas membawanya pada kesempatan karir lain yang sebelumnya tak pernah ia sangka.

Baca Juga :  KAI Daop 2 Bandung Amankan 201 Barang Tertinggal Selama 13 Hari Angkutan Nataru 2025/2026

Titik penting datang ketika salah satu klien loyalnya—pemilik ABC Group—memintanya mengelola dana investasi perusahaan.

Jago Scalping: Bukan Sekadar Profit, Tapi Komunitas Edukasi

Seiring meningkatnya permintaan untuk belajar trading selama pandemi, Steven mendirikan Jago Scalping. Namun ia menegaskan: ini bukan “kelas cuan instan”, tapi komunitas edukasi dengan pendekatan realistis dan berkelanjutan.

“Banyak orang ingin cepat kaya, modal kecil, untung besar. Tapi lupa kalau rugi itu bagian dari proses belajar,” ujarnya.

Steven mengajarkan risk management, money management, dan pola pikir jangka panjang. Analisa teknikal hanyalah alat. Tanpa mental dan sistem, trader hanya jadi korban volatilitas market.

Belajar dari Krisis, Bukan Konten Viral

Steven tak hanya belajar dari grafik dan teori. Ia mengalami langsung tiga fase terburuk dalam sejarah pasar global selama mengelola investasi perusahaan:

1) 2001 (Tragedi 9/11): Semua nasabahnya margin call sehari setelah ia memberi rekomendasi saham.

2) 2008 (Krisis Finansial Global): Portofolio saham anjlok, padahal posisinya terlihat aman sebelumnya.

3) 2020 (Pandemi COVID-19): Harga minyak jatuh, saham babak belur, banyak investor panik.

Semua titik terendah itu memiliki satu benang merah: terjadi saat posisi ditahan menginap. Dari sana, ia simpulkan bahwa scalping menjadi strategi paling aman dan fleksibel, terutama bagi trader ritel yang ingin tetap profit tanpa tekanan ekstrem.

Baca Juga :  Reqruit Asia Rayakan 15 Tahun Perjalanan: Menghubungkan Ribuan Talenta Senior dengan Perusahaan Terbaik di Indonesia

Visi Besar: Trading Sebagai Gerakan Literasi Finansial

Lewat Jago Scalping, Steven ingin trading tak hanya jadi ladang cuan, tapi jadi gerakan edukatif.

“Kalau kita tidak belajar investasi dengan benar, uang kita akan terus disedot oleh broker asing atau judi online,” jelas Steven.

Melalui mentoring seumur hidup, komunitas belajar bersama, dan kurikulum yang realistis, Steven ingin mendorong masyarakat Indonesia—dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga profesional untuk membangun masa depan finansial dengan sadar dan strategis.

Cerdaskan Trader Indonesia

Kisah Steven G. Tunas menjadi pengingat bahwa dalam dunia investasi, hasil bukan segalanya. Fondasi justru ada pada mentalitas, edukasi, dan keberanian mengelola risiko. Di saat banyak orang tergoda pada keajaiban satu malam, Steven mengajak kita untuk membangun keajaiban yang bertahan seumur hidup.

Karena seperti yang ia sering katakan:

“Profit itu hasil, tapi mental itu fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, semua hasil akan runtuh saat badai pertama datang,” pungkas Steven.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Hasil Kuartal I-2026, Krakatau Steel (KRAS) Fokus pada Efisiensi dan Keberlanjutan
Bin Zayed International Jajaki Investasi Air Bersih Jakarta, PAM JAYA Tegaskan Kolaborasi untuk Percepatan Layanan 100 Persen
Masih Maraknya Pinjol Ilegal, Adapundi Berikan Literasi dan Inklusi Keuangan pada Mahasiswa dan UMKM di Bali
Sistem Teknologi LRT Jabodebek Jadi Kunci Keselamatan Operasional untuk Kenyamanan Pelanggan
Bank Raya Gencarkan Program Loyalitas Nasabah, Dukung Perwujudan Percepatan Inklusi Keuangan Digital Nasional
AI Center Makassar dan GDGoC UNM Kembali Gelar Study Jam Robotics dan IoT Bahas Koneksi ESP32 ke Web
Pemerintah Indonesia Akui Kripto sebagai Sektor Usaha
“Aku Tidak Sabar untuk Pergi ke Sekolah Besok…”
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 21:00 WIB

Hasil Kuartal I-2026, Krakatau Steel (KRAS) Fokus pada Efisiensi dan Keberlanjutan

Senin, 27 April 2026 - 20:00 WIB

Bin Zayed International Jajaki Investasi Air Bersih Jakarta, PAM JAYA Tegaskan Kolaborasi untuk Percepatan Layanan 100 Persen

Senin, 27 April 2026 - 19:00 WIB

Masih Maraknya Pinjol Ilegal, Adapundi Berikan Literasi dan Inklusi Keuangan pada Mahasiswa dan UMKM di Bali

Senin, 27 April 2026 - 17:00 WIB

Sistem Teknologi LRT Jabodebek Jadi Kunci Keselamatan Operasional untuk Kenyamanan Pelanggan

Senin, 27 April 2026 - 17:00 WIB

Bank Raya Gencarkan Program Loyalitas Nasabah, Dukung Perwujudan Percepatan Inklusi Keuangan Digital Nasional

Senin, 27 April 2026 - 14:00 WIB

Pemerintah Indonesia Akui Kripto sebagai Sektor Usaha

Senin, 27 April 2026 - 13:00 WIB

“Aku Tidak Sabar untuk Pergi ke Sekolah Besok…”

Senin, 27 April 2026 - 13:00 WIB

Di Era AI, Siapa Penjaga Integritas Audit? Ini Jawaban Prof. Rindang Widuri dalam Pengukuhan Guru Besar BINUS University

Berita Terbaru