Krakatau Steel: Sinyal Ekspor Baja Tiongkok Momentum Perkuat Industri Nasional

- Editor

Selasa, 27 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 27 Januari 2026 – Rencana Pemerintah Tiongkok untuk kembali menerapkan rezim lisensi ekspor baja mulai Januari 2026 menjadi perhatian serius pasar baja global. Kebijakan ini hadir bersamaan dengan penegasan pengendalian output crude steel sepanjang Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), di tengah masih lemahnya permintaan domestik Tiongkok dan lonjakan ekspor baja yang memicu tekanan harga serta friksi dagang internasional.

Pengamat Industri
Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, Steel & Mining Insights menilai
kebijakan tersebut tidak dapat dibaca sebagai pengetatan pasokan secara
otomatis. “Lisensi ekspor bukanlah kuota. Tanpa pembatasan volume yang
eksplisit, kebijakan ini lebih berfungsi sebagai kontrol administratif dan
kualitas, bukan instrumen struktural untuk mengurangi kelebihan pasokan
global,” tulis Widodo dalam analisisnya pada laman SM Insights.

Optimisme Pasar yang Masih
Dibayangi Ketidakpastian
 

Widodo
menjelaskan, sebagian pelaku pasar berharap lisensi ekspor dapat menekan
praktik ekspor agresif berharga rendah dari Tiongkok. Namun secara fundamental,
kelebihan kapasitas baja global yang telah melampaui 600 juta ton membuat
tekanan struktural tetap tinggi. Dalam kondisi tersebut, perubahan kebijakan
Tiongkok lebih tepat dibaca sebagai perubahan struktur risiko, bukan solusi
menyeluruh bagi pasar baja dunia.

Baca Juga :  Shaun the Sheep Ramaikan Hublife Taman Anggrek Residences

Widodo
juga menyoroti kontras tajam antara Indonesia dan negara lain dalam penggunaan
instrumen perlindungan perdagangan. Saat negara-negara utama seperti Amerika
Serikat, Uni Eropa, India, hingga negara-negara ASEAN secara aktif menerapkan
puluhan hingga ratusan trade remedies, Indonesia saat ini hanya memiliki lima
instrumen aktif di sektor baja.

“Kondisi
ini menjadikan Indonesia salah satu pasar paling terbuka dan paling rentan
terhadap limpahan surplus baja global, terutama jika kebijakan Tiongkok tidak
benar-benar menurunkan volume ekspor,” tegas Widodo.

Momentum
Kedaulatan Industri Baja Nasional

Menanggapi
dinamika tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Krakatau Steel
Group (IDX: KRAS) memandang
kebijakan Beijing sebagai sinyal penting yang harus disikapi secara cermat dan
strategis. Perseroan menilai bahwa perubahan kebijakan global justru memperkuat
urgensi penguatan industri baja nasional melalui kebijakan yang sejalan dengan
praktik global dan kepentingan nasional.

Baca Juga :  Dukung UMKM Naik Kelas, Jasa Marga Fasilitasi Mitra Binaan pada Trade Expo Indonesia 2025

Direktur
Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan bahwa
Indonesia tidak perlu ragu dalam melindungi industri strategisnya.

“Kebijakan
global tidak bisa kita kendalikan, tetapi desain kebijakan nasional sepenuhnya
berada di tangan kita. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat
industri baja nasional secara berkelanjutan,” tutup Dr. Akbar Djohan, yang juga
menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association
(IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).

Perseroan memandang penguatan kebijakan baja
nasional sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo
Subianto, khususnya
dalam membangun kemandirian industri, memperkuat struktur manufaktur, dan
menjaga ketahanan ekonomi nasional. Kebijakan yang terarah dan selektif dinilai
penting agar perlindungan pasar domestik berjalan beriringan dengan pengamanan
pasokan bahan baku strategis bagi industri hilir.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Mei Banyak Libur, Dompet Bisa Ikut “Libur”?
KA Sangkuriang Bandung–Ketapang Resmi Berangkat Perdana Hari Ini, Buka Konektivitas Baru Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa
Dukung Ketahanan Pangan, Holding Perkebunan Nusantara Lewat PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi
Perkuat Literasi dan Solusi Finansial Nasabah, BRI Life Hadirkan “Wealth and Tax Excellence 2026” di Surabaya
Kemendes PDT Gandeng Pertamina Foundation Dorong Kemandirian Energi Pedesaan
Pacu Ekspansi Global, SUCOFINDO Perkuat SDM melalui Asesmen Asian Network Forum
Kunjungan Wapres RI ke Proyek Bendungan Bagong, PTPP Percepat Pembangunan untuk Dukung Ketahanan Air dan Pangan
Holding Perkebunan Nusantara Percepat Transformasi ESG, PalmCo Catat Penurunan Emisi 28,88 Persen
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:00 WIB

Mei Banyak Libur, Dompet Bisa Ikut “Libur”?

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:00 WIB

KA Sangkuriang Bandung–Ketapang Resmi Berangkat Perdana Hari Ini, Buka Konektivitas Baru Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa

Jumat, 1 Mei 2026 - 20:00 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Holding Perkebunan Nusantara Lewat PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:00 WIB

Perkuat Literasi dan Solusi Finansial Nasabah, BRI Life Hadirkan “Wealth and Tax Excellence 2026” di Surabaya

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:00 WIB

Kemendes PDT Gandeng Pertamina Foundation Dorong Kemandirian Energi Pedesaan

Jumat, 1 Mei 2026 - 13:00 WIB

Kunjungan Wapres RI ke Proyek Bendungan Bagong, PTPP Percepat Pembangunan untuk Dukung Ketahanan Air dan Pangan

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:00 WIB

Holding Perkebunan Nusantara Percepat Transformasi ESG, PalmCo Catat Penurunan Emisi 28,88 Persen

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:00 WIB

Barantum Bantu Bisnis Respon Pelanggan Lebih Cepat dengan AI Agent

Berita Terbaru

Bisnis

Mei Banyak Libur, Dompet Bisa Ikut “Libur”?

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:00 WIB