Optimasi Hilirisasi Bauksit Nasional, Ciptakan Nilai Tambah Hingga US$3,8 triliun

- Editor

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Langkah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam mineral bauksit, menjadi alumina dan aluminium kini memasuki babak baru yang lebih progresif melalui ekspansi smelter alumina di dalam negeri.

Salah satu proyek yang digencarkan oleh pemerintah yakni fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi yang berlokasi Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), yang merupakan inisiasi dari Anggota Grup MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium.

Kehadiran fasilitas pemurnian tersebut menjadi tonggak penting dalam transformasi struktur industri pertambangan nasional, dari yang selama ini didominasi ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah guna mendukung pertumbuhan ekonomi 8%.

Adapun, Indonesia tercatat memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton. Jika seluruh cadangan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga US$40 per metrik ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar US$311,2 miliar atau setara Rp5.238 triliun dengan asumsi kurs JISDOR Rp16.834 per dolar AS.

Nilai ekonomi dari sumber daya alam mineral Indonesia tersebut melonjak ketika bauksit diolah lebih lanjut. Bila diproses lebih lanjut melalui proses pemurnian, maka 3 ton bauksit akan menghasilkan 1 TON alumina.

Baca Juga :  Alcavella Gelar “Harmoni dalam Kebersamaan” Bersama BM Boutiqe

Maka, dari cadangan yang sama, potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton. Dengan asumsi harga US$400 per metrik ton, nilai ekonominya meningkat sekitar US$1.037 miliar atau setara Rp17.435 triliun.

Pada tahap produksi aluminium, setidaknya diperlukan 2 ton alumina untuk menghasilkan aluminium. Dengan demikian, estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan harga US$3.000 per metrik ton, dan total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai sekitar US$3.885 miliar atau setara Rp65.145 triliun.

Perbandingan tersebut menunjukkan besarnya potensi value creation yang dihasilkan dari hilirisasi bauksit, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pemurnian alumina sebagai fondasi industri aluminium nasional.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, menilai bahwa langkah hilirisasi bauksit yang diinisiasi MIND ID melalui proyek ini menunjukkan transformasi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi.

“Di 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan pola lama pertambangan ekstraktif dan tampil sebagai garda terdepan dalam menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai komoditas mineral,” ujar Ferdy dalam keterangannya.

Baca Juga :  PTPP Optimis Rampungkan Proyek Sekolah Rakyat Aceh Tepat Waktu, Capaian Progres Lampaui Target

Kajian International Aluminium Institute menyebutkan kapasitas pemurnian alumina adalah indikator utama daya saing industri aluminium suatu negara.

Dengan beroperasinya hilirisasi bauksit-aluminium terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini menempati posisi strategis untuk menyuplai kebutuhan aluminium global, khususnya bagi industri manufaktur, transportasi, dan energi terbarukan.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, juga menyatakan bahwa keberhasilan hilirisasi di Mempawah menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan larangan ekspor bijih bauksit mampu dioptimalkan untuk membangun kedaulatan industri yang berkelanjutan.

Di sisi ekonomi, proyek SGAR menciptakan dampak berganda di Kalimantan Barat melalui penyerapan tenaga kerja dan pengembangan infrastruktur.

Secara keseluruhan, penguatan hilirisasi bauksit melalui SGAR menjadi instrumen jangka panjang pemerintah untuk mengamankan bahan baku industri strategis sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar mineral dunia.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

KA Sangkuriang Bandung–Ketapang Resmi Berangkat Perdana Hari Ini, Buka Konektivitas Baru Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa
Dukung Ketahanan Pangan, Holding Perkebunan Nusantara Lewat PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi
Perkuat Literasi dan Solusi Finansial Nasabah, BRI Life Hadirkan “Wealth and Tax Excellence 2026” di Surabaya
Kemendes PDT Gandeng Pertamina Foundation Dorong Kemandirian Energi Pedesaan
Pacu Ekspansi Global, SUCOFINDO Perkuat SDM melalui Asesmen Asian Network Forum
Kunjungan Wapres RI ke Proyek Bendungan Bagong, PTPP Percepat Pembangunan untuk Dukung Ketahanan Air dan Pangan
Holding Perkebunan Nusantara Percepat Transformasi ESG, PalmCo Catat Penurunan Emisi 28,88 Persen
Barantum Bantu Bisnis Respon Pelanggan Lebih Cepat dengan AI Agent
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:00 WIB

KA Sangkuriang Bandung–Ketapang Resmi Berangkat Perdana Hari Ini, Buka Konektivitas Baru Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa

Jumat, 1 Mei 2026 - 20:00 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Holding Perkebunan Nusantara Lewat PalmCo Perkuat Kemitraan Petani di Jambi

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:00 WIB

Perkuat Literasi dan Solusi Finansial Nasabah, BRI Life Hadirkan “Wealth and Tax Excellence 2026” di Surabaya

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:00 WIB

Kemendes PDT Gandeng Pertamina Foundation Dorong Kemandirian Energi Pedesaan

Jumat, 1 Mei 2026 - 13:00 WIB

Pacu Ekspansi Global, SUCOFINDO Perkuat SDM melalui Asesmen Asian Network Forum

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:00 WIB

Holding Perkebunan Nusantara Percepat Transformasi ESG, PalmCo Catat Penurunan Emisi 28,88 Persen

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:00 WIB

Barantum Bantu Bisnis Respon Pelanggan Lebih Cepat dengan AI Agent

Jumat, 1 Mei 2026 - 01:00 WIB

Robot Quadruped Unitree: Dari Riset AI hingga Operasi Industri Berat

Berita Terbaru